Salam Dayalima

Salam jumpa di edisi pertama @dayalima!
 
2012 merupakan tahun penting bagi kami, karena di tahun ini kami melakukan lompatan untuk mendiversifikasi bisnis dan masuk ke pasar internasional.
Kami mendirikan Dayalima, perusahaan yang menjadi “payung” dari anak perusahaan yang semuanya berputar di konsultansi HR. Diawali dengan keberanian melihat peluang-peluang bisnis yang belum kami garap, kami berpartner dengan beberapa organisasi internasional untuk memasuki pasar yang lebih besar. Dayalima ini merupakan realisasi dari salah satu tujuan bisnis kami membangun kantor regional. Dayalima - dari Indonesia untuk 5 benua.
 
Dayalima terdiri dari Daya Dimensi Indonesia – berfokus pada pengembangan talent berbasis perilaku dengan metode dari Development Dimensions International (DDI), Dayalima Recruitment – berpartner dengan Allegist Talent 2 yang berfokus pada business Recruitment Management Office (RMO). Dayalima Recruitment membantu organisasi menjalankan proses seleksi dan rekrutmen dari awal hingga penerimaan. Lalu ada Dayalima Global – bermitra dengan SuccessFactors yang membantu pengelolaan talent dengan menggunakan teknologi.
Kami percaya bahwa kunci sukses organisasi adalah pengelolaan talent (talent management). Dengan tiga mesin bisnis tersebut, kami lebih siap memberikan solusi dan pendekatan yang menjawab kebutuhan klien di masa ini dan masa yang akan datang.
Di 2012 lalu, kami pun semakin memaknai perjalanan kami untuk mewujudkan Indonesia yang lebih baik dengan membantu proses seleksi program Pencerah Nusantara. Program yang mengirimkan tenaga medis ke daerah terpencil untuk mengubah pola pikir masyarakat mengenai kesehatan dan kebersihan.
 
Salah satu solusi bagi klien untuk mengembangkan kapabilitas yang tepat adalah dengan membangun Learning System yang tepat sasaran. Teknologi telah menciptakan ruang tanpa batas sehingga kini sebuah training dapat dilakukan secara jarak jauh. Kami memaparkan Learning System dan Learning 2.0 di Rubrik Solusi.
 
Di edisi ini, kami memunculkan sosok Peter Goldrick; teman, sahabat, penasihat bisnis, dan kini Managing Director Daya Dimensi Global. 
Di Rubrik Kilas, kami menceritakan event-event internasional yang kami hadiri untuk semakin membuka wawasan kami terhadap perubahan yang terjadi sehingga kami dapat memberikan solusi terdepan untuk klien.
 
Akhirnya, memasuki penghujung tahun, kami mengucapkan Selamat Tahun Baru, mari meraih sukses lebih besar di 2013!
 
 
Dayalima
 

Dari Nusantara menuju Lima Benua

“Daya Lima is an international consulting firm providing people solutions. We deliver the best results works to our clients through our commitment to excellence and professionalism based on our values of integrity, diversity, and creating a better world.”
Bertepatan dengan peringatan 14 tahun komitmen memberikan solusi terbaik di bidang pengelolaan sumber daya manusia (people) di Indonesia, Juli lalu, Daya Dimensi Indonesia melebarkan sayapnya melalui Daya Lima untuk masuk ke pasar internasional.
“DayaLima adalah sebagai payung dari beberapa perusahaan yaitu Daya Dimensi Global – web based performance management bermitra dengan SuccessFactor, Daya Dimensi Indonesia – afiliasi Development Dimensions International, DayaLima Recruitment, dan Rumah Produksi,” jelas Andi Wibisono, President Director Daya Dimensi Indonesia dan Regional Director Daya Dimensi Global.
 
Tiap perusahaan memiliki keterkaitan dan komitmen yang sama untuk memajukan pengelolaan sumber daya manusia sebagai kekuatan inti sukses perusahaan. Andi menjelaskan, “Kami bermitra dengan konsultan internasional yang terdepan di bidangnya untuk memberikan solusi tepat dan terbaik bagi klien.”
 
Berdirinya DayaLima merupakan realisasi dari visi dan hasil dari upaya kami untuk menembus batas negara dan menjadi salah satu konsultan internasional dari Indonesia.  
 
DayaLima adalah langkah besar yang diambil serta disambut sangat positif oleh seluruh tim internal. “Konsultan kami dari Daya Dimensi Global, misalnya, mereka memiliki exposure baru yaitu menangani klien-klien dari sembilan negara bersama tim yang juga berasal dari negara yang berbeda. Kami menembus batas negara serta harus beradaptasi dengan perbedaan waktu. Ini tentunya sangat menarik dan menantang,” papar Andi. 
 
Berdirinya DayaLima sekaligus perayaan ulang tahun ke 14 Daya Dimensi Indonesia diadakan di Gedung Arsip Nasional mengundang klien, mitra, dan sahabat yang telah mendukung keberhasilan selama ini. Untuk merayakan keberagaman dalam satu wadah seluruh konsultan dan mitra asing menyajikan flash mob dance.
 
“DayaLima adalah persembahan kami dari nusantara menuju lima benua,” tutur Andi di akhir percakapan.
 

DDI Hadiri Success Connect Asia Pacific

Daya Dimensi Indonesia (DDI) hadiri event tahunan Success Connect yaitu event tahunan yang digelar oleh SuccessFactors. Setiap tahun Success Connect digelar di tiga lokasi: Amerika Serikat, Eropa dan Asia Pasifik. Tahun ini untuk Asia Pasifik, acara digelar di Sydney, tepatnya di Sydney Hilton Hotel pada 23-24 Mei 2012.
 
Dalam acara tersebut banyak informasi baru terkait cerita sukses penggunaan layanan SuccessFactors. Pembicara internal dan testimoni klien menjadi bagian dalam acara tersebut. Salah satu bahasan penting dalam event di Sydney tersebut adalah pentingnya pengembangan fasilitas CLOUD dan integrasi SAP dan SF.
 
“Pengembangan CLOUD serta jaminan keamanan menjadi bahasan penting dalam Success Connect di Sydney. Di Indonesia sendiri, banyak perusahaan maju yang masih belum yakin untuk menggunakan fasilitas tersebut karena ketidakyakinan keamanannya. Padahal sistem ini sangat aman,” jelas Diptraya, Client Account Manager DDI yang hadir di acara Success Connect Sydney tersebut.
 
Diptraya sendiri sangat yakin, perusahaan-perusahaan di Indonesia dalam waktu yang tidak terlalu lama akan sangat cepat mempelajari CLOUD dan menggunakannya sebagai backbone layanan.
 
Dalam acara di Sydney tersebut, DDI kembali memperoleh penghargaan Biz-X best partner excellent. Penghargaan ini diperoleh selama dua tahun berturut-turut.
 
 

Ayo.. Exist di Social Media (untuk Pengembangan Kompetensi)

Masyarakat dunia dibanjiri social media. Facebook, Twitter, Path, Instagram, Formspring, Youtube, dan lainnya menjadi saluran bersosialisasi yang menerobos batasan ruang fisik. Blog menjadi sarana baru untuk menuliskan opini, pengalaman, hingga berbagi ilmu tanpa batasan halaman. Tali pertemanan tetap terjaga tanpa harus bertemu muka. Fenomena luar biasa!
 
Apabila pada awalnya sosial media lebih banyak digunakan sosialisasi informal bahkan membentuk opini, kini keberadaannya mulai menyeberang ke area yang lebih formal, yaitu sebagai sarana penunjang pelatihan dan pengembangan kompetensi (skill) di korporasi.
 
“Melalui JAM, kita dapat memanfaatkan social media untuk membantu proses training and development di sebuah perusahaan,” ujar Aditia Sudarto, Solution Manager Daya Dimensi Indonesia (DDI). JAM adalah platform yang memampukan seseorang memanfaatkan social media seperti Blog, Wiki, Tagging, RSS feed, dan Podcasts dalam kurikulum pengembangannya di organisasi atau korporasi.

Metoda Alternatif Pengembangan Kompetensi

Bagi organisasi yang karyawannya tersebar di berbagai wilayah bahkan negara, social media ini juga bisa menjadi jawaban. Apabila mengirimkan peserta training dari berbagai wilayah dirasa cukup mahal maka dengan Learning 2.0 perusahaan cukup menyediakan webcam dan jaringan internet. Peserta dapat mengunduh aplikasi Learning 2.0 melalui …..    
 
“Kami mengirimkan terlebih dahulu materi pelatihan sehingga pada waktunya nanti seluruh peserta dari berbagai tempat tersebut dapat mengikuti pelatihan. Karena tidak terbatas ruang, tidak jarang korporasi menyiapkan video dari CEO untuk dipasang sebagai pembuka training. “Tentunya ini membuat proses yang akan diikuti peserta menjadi lebih bermakna karena dari pengalaman kami, CEO menyampaikan latar belakang dan kaitan proses pengembangan tersebut dengan kebutuhan bisnis di perusahaan,” tambahnya.
 
Namun demikian, Aditia menegaskan bahwa penggunaan Learning 2.0 ini bukan langkah awal bagi organisasi untuk memulai proses pengembangan. Ia mengatakan, organisasi harus terlebih dahulu melakukan proses identifikasi kompetensi atau skill yang dibutuhkan untuk menjawab kebutuhan bisnis. “Ini mutlak, tidak bisa tidak,” tegasnya.
 
Langkah berikutnya adalah menyusun kurikulum rencana pengembangan sesuai dengan kebutuhan organisasi untuk tiap lini dan divisi. Baru kemudian menentukan bagaimana kompetensi tersebut dapat dikembangkan dengan tepat.
 
Social media bisa jadi salah satu pendekatan yang efektif untuk beberapa kompetensi. Aditia menjelaskan,” Tidak semua kompetensi bisa dikembangkan melalui pendekatan social media. Coaching misalnya, lebih tepat jika dikembangkan melalui pertemuan atau direct interaction.”
 

Menumbuhkan Budaya Pengembangan Berkelanjutan

Manfaat utama yang dapat diambil dari penggunaan social media dalam pengembangan kompetensi adalah tidak adanya batasan ruang fisik. Menurut Aditia, hal ini mendukung proses pembelajaran sehingga lebih efektif dan efisien. Ia mencontohkan di klien yang sudah memanfaatkan Learning 2.0, sebelum pelatihan/training, fasilitator – DDI membuka forum dalam bentuk blog. “Peserta yang terdiri dari 20 leaders di organisasi berkenalan di blog dan masing-masing menuliskan mengapa kompetensi tersebut, waktu itu kompetensi decision making, menjadi penting di pekerjaan. Mereka saling bertukar pengalaman. Di fase ini fasilitator berperan sebagai moderator,” papar Aditia. Proses ini secara langsung membangun ambience peserta sebelum latihan dimulai.
 
“Pengembangan decision making kami rancang sebagai penggabungan antara direct interface dan social media. Kami mengadakan pertemuan singkat untuk menyamakan persepsi terhadap pengembangan kompetensi tersebut. Selanjutnya kami merancang live chat, maupun video conference dimana peserta dapat melatih interaction skill menggunakan kompetensi decision making. Peserta juga dapat saling memberikan umpan balik,” Aditia menjelaskan.
 
Paska training, DDI kembali menyiapkan forum blog maupun live chat dimana peserta membuat buku harian implementasi terhadap kompetensi decision making yang baru saja dipelajari. Aditia mengatakan,”Biasanya energi peserta yang baru ikut training masih tinggi. Kami ingin memanfaatkan momentum tersebut sehingga dengan interaksi yang berkelanjutan melalui social media maka budaya pengembangan juga berjalan berkelanjutan.”
 
Kembali di akhir perbincangan Aditia mengingatkan bahwa social media tidak bisa digunakan di setiap kompetensi dan pendekatan ini lebih untuk menguatkan direct interactive yang ia rasa masih sangat efektif. “Namun pengembangan melalui social media ini bisa jadi jalan keluar untuk perusahaan yang memiliki keterbatasan ruang fisik. Toh teknologi saat ini sudah mendukung, so why not?” ungkap Aditia.
 

JAM, Bawa Tren Social Media Tingkatkan Efektivitas

Tren social media yang makin marak sering dijadikan alasan turunnya produktivitas dan hilangnya fokus talent dalam menyelesaikan target kerjanya. Social media dianggap – dan secara faktual juga terjadi – menghabiskan banyak waktu di  jam-jam produktif. Akibatnya, banyak perusahaan mengunci alamat web social media pada jam kerja.
 
Daya Dimensi Indonesia (DDI) justru melakukan modifikasi tren social media menjadi alat untuk meningkatkan efektivitas dalam bekerja. Sistem tersebut bernama JAM.  Konon, asalnya adalah dari JAM Session, dimana dalam satu waktu terjadi kolaborasi antar alat musik dan tercipta harmoni yang indah. “Harmoni dalam Jam session itulah yang mendasari nama JAM, social colaboration tool, ” jelas  Diptraya, Client Account Manager DDI.
 
JAM ini memiliki tampilan seperti social media pada umumnya dengan mengedepankan interaktif antarpersonal. Semua fitur sama persis dengan social media misalnya berbagi dokumen, foto, video, dan lain-lain yang akan dikembangkan. Semuanya terkait dengan pekerjaan. “Ada banyak keuntungan yang diperoleh dengan menggunakan JAM, terutama terkait kecepatan berkomunikasi, belajar, khususnya knowledge sharing dan file storage. JAM juga efektif digunakan untuk lokasi yang saling berjauhan,” ujar Diptraya.
 
Knowledge sharing ini misalnya mengunggah video mengenai presentasi atau hal lainnya via JAM. Sehingga yang ingin belajar langsung dapat melihat dan interaksi. Demikian juga efektivitas saat saat terkait pengiriman dokumen penting. Tinggal posting dokumen dan dikirim ke 1 pihak. Yang berkepentingan terhadap dokumen tersebut dapat memberikan komentar atau masukan. “Saling memberi masukan via kolom komentar lebih efektif daripada reply all via e-mail,” tuturnya.
 
DDI kini telah menggunakan fasilitas tersebut untuk karyawan internal mereka. Untuk berhubungan dengan klien, teknologi  e-mail tetap digunakan. “Tapi kita jadi tahu, kalau ada e-mail masuk, itu pasti dari klien. Kalau dari internal pasti menggunakan JAM,” kata Diptraya. Masa penyesuaian untuk pengenalan penggunaan JAM ke internal juga tidak lama karena semua orang sudah akrab dengan social media.  Kini JAM mulai diperkenalkan ke klien untuk meningkatkan kinerja dan komunikasi di internal.
 

Peter Goldrick: Indonesia Siap Bersaing di Pasar Global

Peter Goldrick adalah sosok yang telah mengiringi perjalanan Daya Dimensi Indonesia sejak 1998. Hingga 2011, ia menjadi penasihat bisnis untuk manajemen Daya Dimensi Indonesia karena pemahamannya terhadap pasar di Indonesia dan internasional. Peter adalah salah seorang tokoh kunci berdirinya Daya Dimensi Global dan kini memegang kendali sebagai Managing Director perusahaan yang beroperasi di sembilan negara tersebut.
 
Berikut adalah percakapan @dayalima dengan Peter Goldrick.
 
Bagaimana perkenalan dengan Daya Dimensi Indonesia?
Saya mengenal pendiri Daya Dimensi Indonesia sewaktu kami masih bergabung kantor Development Dimensions International (DDI) di Jakarta. Di 1998 saya kembali ke Australia untuk mendirikan GME Consulting, perusahaan konsultan HR. Teman-teman di antaranya Rozan Anwar, Endah S. Affif, dan Meike Malaon mendirikan Daya Dimensi Indonesia yang memegang lisensi DDI. Kami terus menjalin hubungan. Di tahun 2000, kami sepakat membentuk kemitraan dengan bendera GME Indonesia, dimana bisnis kami saat itu adalah memberikan solusi HR yang tidak bersinggungan dengan produk-produk DDI. 
 
Bagaimana Anda melihat peluang berdirinya Daya Dimensi Global?
Saya melihat komposisi yang tepat dari partnerships dengan SuccessFactors dan strategic alignment dari Daya Dimensi Indonesia untuk menembus pasar internasional. Aspek lain yang kami nilai menjadi wild card adalah momentum – kapan waktu yang tepat? Kami duduk dan membicarakan peluang-peluang yang sangat besar serta risiko-risikonya, hingga pembicaraan berhenti pada dua pertanyaan, siapkah Daya Dimensi Indonesia dan bagaimana vehicle yang tepat untuk masuk ke pasar global? Kami tidak ingin kehilangan momentum. It’s now or … (probably) never. Kami pun sepakat bahwa saatnya sudah tiba untuk mendirikan Daya Dimensi Global.
 
Apa yang Anda katakan saat itu kepada manajemen Daya Dimensi Indonesia?
Kami telah memulai perjalanan bersama sejak lama. Kami telah mengenal baik satu sama lain. Salah satu hal yang saya hargai dari teman-teman di Daya Dimensi Indonesia adalah, bahwa visi mereka tidak saja membangun bisnis namun membangun konsultan HR terbaik menuju Indonesia yang lebih baik. I personally love the vision. Saya katakan bahwa kita sudah memiliki komponen yang tepat untuk go international. Bersama partner saya Bruce Ebert: Chief Financial Officer, kami memberikan komitmen penuh di bisnis Daya Dimensi Global untuk memberikan international flavor. Apakah kalian siap memanfaatkan peluang sekaligus risikonya? 

Bagaimana Anda melihat peluang perusahaan di Indonesia untuk masuk ke pasar global?
Saya tidak melihat alasan yang menyebabkan perusahaan di Indonesia tidak bisa masuk ke pasar internasional. Indonesia is ready to catch up. Dengan turbulensi ekonomi di Amerika Serikat dan Eropa, maka Indonesia mempunyai peluang yang lebih besar. It is the right time to grow.
 
Aspek-aspek apa saja yang harus dimiliki perusahaan lokal untuk go-international?
Kuncinya ada di sumber daya manusia, atau saya lebih senang menyebutnya people. Perusahaan dengan budaya kerja yang kuat, tingkat kapabilitas yang baik, keberanian, dan kesabaran menghadapi turbulensi bisnis memiliki peluang yang lebih baik untuk bersaing di pasar internasional. Sekarang yang harus dijawab oleh pebisnis adalah bagaimana mendapatkan (attract), mengembangkan (develop), dan mempertahankan (attain) people di dalam organisasi.
 
Bagaimana Anda melihat prospek bisnis konsultansi HR?
Perubahan besar sedang terjadi dan sangat cepat. Tidak dapat dipungkiri teknologi menjadi latar belakang terjadinya perubahan tersebut. Informasi dari dunia maya hingga media sosial sudah menjadi referensi bagi karyawan untuk mengetahui dan memahami sesuatu. Jika dulu manager dianggap sebagai orang yang paling tahu dan paling berilmu, kini untuk satu isu tertentu, karyawan dapat mencari informasi di dunia maya dan dalam hitungan menit – tanpa harus bertanya ke manager, karyawan sudah memperoleh informasi tentang isu tersebut. Saya mengatakan bahwa people adalah kunci sukses perusahaan maka diperlukan pendekatan baru untuk mengelola people di era perubahaan ini. Konsultan HR bisa berperan mengawal organisasi menghadapi perubahan tersebut. Konsultan yang telah sejak awal ikut dalam perkembangan teknologi dalam pengelolaan people menjadi diuntungkan.
Di Daya Dimensi Global, kami mencari klien-klien yang tertarik dan mau menggunakan teknologi untuk menjalankan bisnisnya. Saya melihat di Indonesia sendiri bisnis ini akan berkembang melihat semakin banyak perusahaan yang sudah memanfaatkan teknologi canggih di sendi-sendi bisnisnya. Selain di Indonesia, kami beroperasi di delapan negara lain yaitu Australia, Singapura, New Zealand, Malaysia, Philipina, Taiwan, Hong Kong, dan Vietnam.
 
Bagaimana saran Anda terhadap perusahaan untuk mengelola people di masa ini?
Ganti gaya manajemen “Old and bold” dengan “young and adventurous”. Media sosial membuat semua orang up-date terhadap perkembangan. Hal ini membuat karyawan memiliki ekspektasi yang lebih dibanding sebelumnya. Karyawan bergabung ke dalam organisasi karena mereka memiliki visi yang sama. Jika mereka sudah tidak percaya kepada misi organisasi, dengan saluran informasi yang mereka miliki, karyawan bisa mencari organisasi lain yang dapat menjawab kebutuhan dan aspirasinya. Anda tidak lagi bisa menganggap bahwa membayar gaji mereka sudah cukup untuk membuat mereka bekerja. Tidak. Masa itu sudah lewat. 
 
Bagaimana strategi Daya Dimensi Global untuk menghadapi persaingan yang semakin ketat di kemudian hari
Visi kami adalah mendirikan organisasi yang mampu beradaptasi terhadap dinamika ekonomi. Kami telah mengalami beberapa kali krisis ekonomi serta melihat dalam krisis pun banyak perusahaan yang dapat maju dan berkembang. Kami percaya dengan people yang berada di Daya Dimensi Global, technologi yang mendukung, dan manajemen saat ini, kami mampu bersaing di pasar internasional.
 

Learning System: Platform Pengembangan Berbasis Kapabilitas Internal

 
Sebuah organisasi yang ingin berkembang membutuhkan sumber daya manusia (SDM) yang mampu mengeksekusi visi dan tujuan-tujuan organisasi dengan baik. Persaingan antarkorporasi yang semakin ketat juga menuntut karyawan-karyawan semakin kapabel demi menjawab tantangan bisnis. Organisasi perlu menciptakan platform yang memampukan karyawan memenuhi target individual maupun organisasi.
 
Berbicara mengenai peningkatan kapabilitas berarti berbicara mengenai inisiatif pengembangan SDM. Tidak sedikit organisasi atau korporasi yang masih hanya menyandarkan pemenuhan kebutuhan pengembangan pada pihak eksternal. “Perusahaan harus sudah berpikir untuk membangun kapabilitas internal untuk juga mampu melaksanakan kegiatan-kegiatan pengembangan dan mengimbangi keterlibatan eksternal atau konsultan,”jelas Arie Panca, Business Execution Group (BIG) Head.
 
Arie menjelaskan bahwa dengan mengembangkan kapabilitas internal, organisasi memperoleh berbagai aspek positif. Ia mengatakan,“Perusahaan dapat diuntungkan dari sisi biaya, itu sudah jelas. Selain itu, langkah ini dapat membangun budaya pembelajaran dan pengembangan karena dalam hal ini, internal leader sangat berperan dalam menjalankan proses pengembangan. Manfaat lain adalah tumbuhnya budaya coaching dan tersalurnya kapabilitas kepemimpinan dari para leader di organisasi.”
 
Ia menyebut proses pengembangan dengan memanfaatkan kapabilitas internal dijalankan melalui Learning System yang terdiri dari kapabilitas (fasilitator, coach, mentor, learning coordinator) dan infrastruktur (metodologi, perangkat) penyelenggara kegiatan pembelajaran dan pengembangan. “Di Daya Dimensi Indonesia, kami membantu perusahaan mencetak facilitator-facilitator handal. Para facilitator ini nantinya akan mampu membawakan modul-modul DDI. Keuntungan dari facilitator internal adalah, mereka bisa sangat memahami kultur dan persoalan organisasi. Sehingga, contoh-contoh yang diberikan bisa lebih nyambung selama training dengan peserta,” cetusnya. Untuk mencetak facilitator handal, Daya Dimensi Indonesia memiliki pelatihan Facilitator Skill Workshop (FSW). Pelatihan ini mendapat sertifikasi internasional dan pesertanya dapat membawakan modul DDI. 


Membangun Learning System di Organisasi

Langkah awal untuk membangun Learning System adalah mencetak facilitator. Pada umumnya, facilitator internal diambil dari pimpinan lini menengah dan atas dengan peserta training berasal dari lini staff hingga pimpinan lini menengah. Bagi mereka yang terpilih, menjadi facilitator bisa menjadi alternative karir yang perlu mereka perhitungkan. “Tidak jarang kami menemukan facilitator internal yang ternyata lebih berminat atau passionate mengajar dibanding mengerjakan pekerjaan utamanya,” ungkap Arie.

Walaupun demikian, Arie mengakui besarnya tantangan untuk mencari line-manager/leader untuk dijadikan internal facilitator. Tantangan ini disebabkan pertimbangan para line-manager/leader untuk membagi waktunya antara tugas utama dengan mengajar. Namun demikian, jika organisasi bisa lebih mampu dan jeli dalam mencari potensi-potensi facilitator di dalam organisasi maka tantangan pembagian tugas dan waktu dapat teratasi. Disinilah DDI juga dapat turut berperan membantu organisasi dalam mencari potensi tersebut.
 
Langkah berikutnya untuk membangun Learning System adalah memastikan implementasi pembelajaran yang mulus. Arie menegaskan bahwa modul-modul DDI dilengkapi dengan traning kit dan facilitator kit yang memudahkan facilitator untuk mengajar. Ia cukup optimis saat mengatakan bahwa modul-modul DDI dikembangkan melalui research terhadap jutaan leader dan sudah terbukti hasilnya. 
 
Penyediaan training workbook yang mudah dipahami menjadi langkah akhir. “Meteri pembelajaran kami disusun sedemikian rupa sehingga peserta dapat memahami dan mempraktekan kapabilitas yang sedang dikembangkan, langsung dalam pekerjaan. Kami fokus pada bagaimana cara menggunakan sebuah keterampilan agar langsung dapat membantu pekerjaan dan mendorong kinerja bisnis, jadi sangat hands-on sifatnya ” papar Arie.
DDI akan duduk bersama HR Development perusahaan untuk membangun kurikulum yang dibutuhkan karyawan di tiap lini. Setelah kurikulum terbentuk, akan lebih mudah melihat modul-modul apa saja yang sesuai bagi karyawan. 
 
Di akhir wawancara, Arie mengingatkan pentingnya membangun Learning System yang sudah terbukti berhasil. “Kami sering menemui perusahaan yang meminta para facilitator internal untuk membuat materi training sendiri. Fasilitator adalah fasilitator, dengan set keahlian untuk membawakan proses pembelajaran, yang berbeda dengan set keahlian pengembang infratruktur pembelajaran. Yang pasti, fasilitator yang notabennya adalah para line manager/leader tidak akan punya waktu dan konsentrasi kalau tidak didukung oleh materi yang proven, mereka cukup mempersiapkan konteks dan kasus-kasus terkait, “ tegasnya.
 
 

Ikut Memecahkan Persoalan Bangsa

Daya Dimensi Indonesia Bantu Pencerah Nusantara

Masalah kesehatan merupakan masalah yang menjadi perhatian penting bagi pemerintah. Terutama bagi masyarakat yang hidup di daerah terpencil. Persoalan ini, harus dijawab dengan tindakan nyata dan menjadi highlight di Millenium Development Goals (MDG). Itulah sebabnya, pemerintah, melalui Kantor Utusan Khusus Presiden RI (KUKPRI) merancang sebuah program, yakni Pencerah Nusantara. 
 
Pencerah Nusantara yang diluncurkan bertepatan dengan Indonesia MDG Awards 2011 (IMA 2011) mewadahi pejuang-pejuang muda di bidang kesehatan untuk membantu penduduk di daerah terpencil lepas dari masalah-masalah kesehatan dan kebersihan.  Para peserta Pencerah Nusantara akan ditempatkan di puskesmas utama di kecamatan. Setiap daerah ditempatkan empat tenaga kesehatan yang memiliki kualifikasi dokter, dokter gigi, perawat, bidan, dan pemerhati kesehatan. Pada tahun pertama, propinsi yang akan ditempati antara lain Sulawesi Tengah, Kalimantan Timur, NTT, Jawa Barat, Jawa Timur dan Sumatera Barat.
 

Seleksi Pencerah Nusantara

Menjadi agen perubahan dibutuhkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang tidak biasa. Para peserta Pencerah Nusantara harus memiliki kualifikasi tertentu karena medan yang akan dihadapi cukup berat. Berada di pelosok selama satu tahun dengan fasilitas seadanya dan perbedaan budaya bukan hal yang mudah dihadapi oleh para pengabdi.
 
Setelah sukses dalam seleksi para pengabdi di Indonesia Mengajar, Daya Dimensi Indonesia melalui unit bisnis Dayalima Recruitment kembali dipercaya untuk mencari dokter dan tenaga medis yang bersedia bekerja sepenuh hati memperbaiki lingkungannya dan mengajak para pihak untuk berinovasi dan berkolaborasi membawa perubahan yang lebih cepat.
 
“Kami membantu proses seleksi dokter maupun tenaga medis lainnya, seperti bidan, perawat , dan pemerhati kesehatan. Proses seleksi kami lakukan dengan berbasis kompetensi dengan terlebih dahulu bersama KUKPRI menentukan profil sukses dari calon peserta Pencerah Nusantara. Proses ini penting untuk mendapatkan gambaran latar belakang pelaksanaan program, keahlian teknis dan non-teknis yang diperlukan hingga perilaku yang diharapkan muncul dari seorang Pencerah Nusantara,” jelas Vina G. Pendit, Direktur Dayalima Recruitment. Tim Dayalima Recuritment  kemudian merumuskan kompetensi perilaku yang dibutuhkan dan jenis motivasi yang ingin dilihat dari kandidat.
 
Vina mengatakan mengatakan, peminat program ini sangat banyak, tapi untuk mencari profil yang cocok menjadi peserta Pencerah Nusantara tentu harus melalui seleksi. Salah satu perilaku yang harus dipenuhi peserta adalah kemampuan membangun kerja sama dengan masyarakat sekitar, dan itu tidak mudah. Banyak isu seputar kesehatan dan kebersihan yang erat kaitannya dengan pola pikir. Isu  kesehatan seperti pentingnya imunisasi, pemeriksaan rutin pada masa kehamilan, persiapan pernikahan, hingga pentingnya menjaga kebersihan dan memiliki kamar kecil harus mulai disosialisasikan . Untuk itu, menurut dia, kemampuan membangun kerja sama dengan masyarakat menjadi sangat penting bagi profil peserta. Pasalnya, peserta harus bisa merubah pemahaman dan budaya masyarakat di lingkungan ia ditempatkan. “Selain kompetensi tersebut, kami melakukan assessment untuk melihat kompetensi kandidat di area initiating action, gaining commitment, resilience, work standards, planning  & organizing, decision making, serta tentu saja motivational fit,” tambah Vina.


Metodologi Assessment untuk Agen Perubahan

Dari sekitar 1.043 pendaftar, Dayalima Recruitment dan KUKPRI hanya memilih 33 orang untuk menjadi peserta Pencerah Nusantara angkatan pertama 2012. “Namun demikian, hasil seleksi Dayalima merupakan elemen penentu apakah kandidat bisa lolos menjadi Pencerah Nusantara. Tidak semua dokter atau tenaga kesehatan cocok untuk bergabung di program ini. Softskill sangat berperan menentukan apakah calon tersebut akan sukses atau tidak setelah ditempatkan di daerah,” ujar Vina. 

Untuk proses seleksi ini, KUKPRI menggandeng Yayasan Indonesia Mengajar yang telah memiliki pengalaman mengirimkan pengajar-pengajar muda ke area terpencil. Yayasan Indonesia Mengajar mengembangkan seleksi administrasi berbasis web. Proses ini menyaring kandidat antara lain berdasarkan latar belakang pendidikan, IPK, usia, serta pengalaman organisasi. 
 
Daya Dimensi Indonesia melalui Dayalima Recruitment melakukan competency profiling dan direct assessment yang terdiri dari wawancara menggunakan TS™Interview, focus group discussion, planning organizing simulation, analysis simulation, dan ideal job inventory.
“Kandidat Pencerah Nusantara harus melalui tiga tahap proses seleksi yaitu seleksi administrasi, essay review baik teknis dan perilaku dilakukan KUKPRI bersama Daya Dimensi Indonesia, dan yang terakhir adalah direct assessment,” papar Vina. Dari seluruh pendaftar hanya 51 orang yang mengikuti proses assessmen.
 

Kontribusi Memecahkan Permasalahan Bangsa

Daya Dimensi Indonesia  menyambut positif undangan KUKPRI untuk terlibat dalam proses seleksi calon peserta Pencerah Nusantara. Program ini, sejalan dengan visi organisasi yang sangat peduli terhadap bergulirnya realisasi Indonesia yang lebih baik. “Hal ini adalah sebuah kesempatan yang baik untuk mengaplikasikan ilmu serta metodologi kami sekaligus memberi makna bagi Indonesia. Kami memahami bahwa isu yang disasar oleh Pencerah Nusantara adalah problem mendasar yang harus segera dipecahkan,” kata Vina.
 
Ia menambahkan,”Kami juga semakin yakin bahwa metodologi behavioral-based dari Development Dimensions International tidak hanya mampu menjawab kebutuhan korporasi namun juga sukses menjawab kebutuhan organisasi-organisasi positif di masyarakat untuk mencari talent-talent dari generasi muda menjadi agen perubahan menuju Indonesia yang lebih baik.”
 
 

Forum Percakapan: 17 April 2012


“Bangga dan Bertindak sebagai Indonesia yang Besar”
Bayu Krisnamurthi


Ada suasana agitatif dalam “Forum Percakapan”  edisi 17 April 2012. Namun, ini bukan mendorong aksi anarki, melainkan mampu mempompa semangat optimisme dan kepercayaan diri peserta sebagai bangsa Indonesia yang besar. Mengangkat tema: “Bangga dan Bertindak sebagai Indonesia yang Besar,” Forum menghadirkan Bapak Bayu Krisnamurthi -  Wakil Menteri Perdagangan yang sebelumnya menjabat Wakil Menteri Pertanian dari periode 2009 – 2011. Dalam dialog yang dipandu Konsultan Senior DDI Aditya Sudarto,  ia begitu bersemangat ketika menceritakan pengalaman mempromosikan produk dan jasa di dalam kancah perdagangan global. 
 
Tanpa didasari, penuturan Doktor Program Studi Ekonomi Pertanian  IPB itu, menyentak  rasa kebangsaan kita sebagai sebuah bangsa yang besar yang perlahan-lahan semakin luntur di tengah masyarakat.  Itu bisa dipahami ketika berita tentang Indonesia yang muncul di media – khususnya  dari media internasional, justru kabar-kabar yang citra bangsa ini makin terpuruk. Bencana, praktik korupsi yang makin akut di masyarakat, atau pelecehan tenaga kerja Indonesia utamanya tenaga kerja wanita di luar negeri adalah sebagain materi promosi buruk yang kerap diangkat media. Pasar bebas, di sisi lain, mendorong membanjirnya  investasi dan impor produk-produk asing ke dalam negeri. Asing menguasai kepemilikan perusahaan-perusahaan strategis, mulai dari perbankan, pertambangan, sampai jaringan retail produk konsumsi. Kondisi ini memunculkan kesan betapa lemah dan rentannya bangsa Indonesia dalam menghadapi persaingan ekonomiu global.
 
Sudut pandang berbeda disuarakan Bapak Bayu. Sebagai birokrat yang bertanggungjawab untuk menggenjot produk dan jasa  Indonesia di tingkat internasional, ia mlah melihat Indonesia semakin disegani dan diperhitungkan dalam kancah global. Pak Bayu  tidak  minder dan justru bangga menjadi bagian bagian bangsa Indonesia. Ia lalu menguraikan pengalaman memimpin negosiasi  perdagangan dengan para pejabat dan pelaku bisnis Afrika Selatan pada dalam 9-14 April 2012,  dalam acara: Indonesia Night yang diselenggarakan di Cape Town, Afrika Selatan (Afsel). Peran Negeri Nelson Mandela tersebut sangat stratagis diantara negara-negara lain di ujung selatan Benua Afrika. Perekonomian dan standar kehidupan masyarakat Afsel pun relatif tidak berbeda jauh dibandingkan negara maju.  Namun, pejabat-pejabat Afsel tersebut mengakui kebesaran Indonesia sebagai pemimpin ASEAN dan Dunia Islam.  
 
Mungkin ini sekadar sopan santun diplomatis dalam sebuah negosiasi bisnis antar bangsa. Yang pasti, hasil akhir negosiasi yang dijalankan, Pak Bayu mampu menghasilkan sejumlah kesepakatan yang menguntungkan neraca perdagangan Indonesia.  Pemerintah Afsel bersedia menurunkan tarif ekspor sejumlah produk dan komoditi Indonesia setelah pemerintah Indonesia mendorong Pertamina membuka cabang dan gudang pengemasan di Afsel. Secara keseluruhan, transaksi perdagangan antara kedua negara berada pada posisi surplus untuk Indonesia.  Pemerintah Afsel memang menawarkan kemudahan bagi negara-negara yang bersedia menanamkan investasi di negeri ini menyusul tetap tingginya tingkat pengangguran di sana. “ Indonesia tidak akan mendapat keistimewaan penurunan tarif jika tidak smart dan percaya diri dalam melaksanakan negosiasi,” katanya.

Masih dalam rangka untuk mengangkat citra Indonesia di tingkat global, pada kesempatan “Forum Percakapan” kali ini juga menghadirkan tim pendaki gunung perempuan Indonesia yang akan menjelajahi Kutup Selatan pada 14-30 Desember 2012 mendatang.  Mereka adalah  Ami KMD Saragih (48 tahun, psikolog, ibu 2 anak), Amalia Yunita (44 tahun, wiraswasta, ibu 3 anak), Veronica Moeliono (48 tahun, pegawai swasta, ibu 1 anak),  Diah Bisono (46 tahun, wiraswasta, ibu 3 anak), dan Miranda Wiemar (43 tahun, akuntan, ibu 1 anak). 
 
Tujuan akhir ekspedisi para ibu yang tergabung dalam Yayasan Lupus Indonesia  adalah berhasil menancapkan bendera dwiwarna: merah-putih di  ke jantung benua Antartika. Tidak hanya itu, mereka sekaligus membawa pesan mulia: mengkampanyekan kesadaran masyarakat akan bahaya Lupus.  Penyakit yang sebagian besar menyerang kaum perempuan tersebut, sampai saat ini belum ditemukan cara pengobatannya. Perhatian khusus dari Pemerintah pun masih belum optimal sehingga korban terus meningkat karena kurangnya informasi.  Daya Dimensi  Indonesia turut mendukung misi mulia tim pendaki perempuan Indonesia untuk menjelajahi kawasan kutup selatan.  Jika tersentuh dan tergerak untuk mensukseskan misi mulia ini, Anda  dapat menghubungi DDI untuk berkontribusi lebih jauh. Tentu dengan tujuan akhir bangsa Indonesia semakin besar dan diperhitungkan diantara bangsa-bangsa di dunia ini.
 
 

Forum Percakapan: 30 Agustus 2012

M. Arsjad Rasjid PM dan Sudirman Said:
Nilai Budaya Bangsa untuk Global Growth Company

Tak banyak perusahaan Indonesia yang mampu berprestasi di lingkup internasional. Apalagi dengan persaingan global yang kian ketat. Munculnya perusahaan multinasional  yang meraja di pasar finansial dan sektor riil tentu menjadi tantangan bagi perusahaan domestik untuk berjaya.
Namun, tantangan tersebut mampu dijawab oleh PT Indika Energy Tbk, perusahaan energi terpadu nasional yang berskala global. Indika mampu tumbuh dan berkembang sangat pesat, sehingga berhasil meraih penghargaan bergensi di ajang internasional.
 
Puncaknya, tahun lalu, PT Indika menjadi satu-satunya perusahaan Indonesia yang menjadi role model companies dalam World Economic Forum (WEF) Global Growth Companies di Dalian, China. Sebagai perusahaan energi terintegrasi (resources, services dan infrastructure), Indika menjadi terbaik dari 315 anggota WEF Global Growth Companies mewakili lebih dari 60 negara. 
 
Kendati demikian, tidak bisa dipungkiri bahwa cikal bakal Indika memang didirikan oleh para tokoh bisnis di Era Orde Baru, antara lain Sudwikatmono, Wiwoho Basuki Tjokronegoro, dan  Agus Lasmono yang dinilai dekat dengan Keluarga Cendana.  Namun, seperti dikemukakan Arsjad Rasjid, Direktur Utama sekaligus Co-CEO Indika Energy Tbk., perusahaan harus memulai kembali pembangunan dari titik nol setelah era reformasi pada 1998.
 
“Ketika Indonesia digoncang krisis multidimensional, kami adalah yang pertama menyerahkan semua aset perusahaan ke BPPN. Nilai kepercayaan dan harga diri dalam bisnis adalah utama. Uang dapat dicari tetapi harga diri tidak bisa dipulihkan,” tegas Arsjad mengenang saat awal pendirian  Indika Energy dalam acara bincang-bincang rutin bulanan  “Forum Percakapan” edisi 30 Agustus 2012 di Kantor Pusat Daya Dimensi Indonesia di Kawasan Mega Kuningan Jakarta.
 
Dia menuturkan, Indika Energy terus melakukan transformasi demi menjamin tercapainya perbaikan.  Tetapi, masih banyak tantangan yang harus dihadapi, seperti bagaimana mengelola pertumbugan, adanya kesenjangan dalam organisasi, kesenjangan kapabilitas, kesenjangan teknologi, dan kesenjangan nilai-nilai sosial budaya.

 
Satukan Budaya

Pada kesempatan yang sama, Sudirman Said, Group Chief of Human Capital and Corporate Services PT Indika Energy Tbk mengemukakan, salah satu strategi bisnis yang dilakukan manajemen adalah akuisisi, baik perusahaan nasional maupun asing. Hingga saat ini, Indika sudah berhasil mengakuisi puluhan perusahaan, baik nasional maupun internasional, yang tentu memiliki budaya dan latar belakang yang berbeda-beda.
 
Untuk itu, pihaknya harus bisa menyatukan setiap perbedaan budaya itu menjadi satu budaya baru Indika Energy.  “Kesemuanya kami ikat menggunakan empat nilai dasar perusahaan, yaitu integrity , unity in diversity, team work, dan  social responsibility,” kata Sudirman.
 
Jika dilihat lebih dalam, menurut Sudirman, keempat nilai tersebut merupakan cerminan dari nilai-nilai ke-Indonesiaan dan terkandung dalam Pancasila. Integrity menjelaskan aspek kejujuran – sebagai pencerminan sila pertama Ketuhanan yang Maha Esa. Unity in Diversity adalah gambaran kebhinekaan. Aspek Team Work, mencerminkan aspek kegotongroyongan. Sedangkan aspek social responsibility mengilustrasikan tanggungjawab keadilan sosial.
 
 “Nilai-nilai itu bukan hanya  kata-kata tanpa makna tapi bagaimana membuat kata-kata dilaksanakan dalam pengelolaan perusahaan sehari-hari. Adapun bottom line dari semua upaya ini adalah profitabilitas perusahaan dalam jangka panjang,” kata dia.