Salam Dayalima

Marhaban ya Ramadhan,
Mari bersihkan hati untuk menyambut Ramadhan yang suci.
Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang merayakan.
 

Mengukur Kualitas Seorang Pemimpin.

Bagaimana kita mendeskripsikan sosok pemimpin yang ideal?
Di saat semua orang bebas berekspresi, mengutarakan pendapat, melontarkan ide dengan berbagai perspektif, memimpin tidak sebatas memberikan to do list pada bawahan. Apa yang sebenarnya yang dibutuhkan seorang pemimpin untuk dapat me-manage multi generasi dengan value, kebutuhan, perbedaan pandangan yang sering memicu konflik? Melalui Forum Percakapan bersama Adnan Buyung Nasution (Tokoh Hukum Tata Negara) dan Bambang Harimurti (Presdir PT Tempo Inti Media), mari menilik kualitas pemimpin nasional, dulu dan sekarang. Makin tinggi pohon, makin deras anginnya. Pada saat pemimpin dituntut untuk terus beradaptasi dengan keadaan, berinovasi, memotivasi dan memberikan ruang bagi karyawan untuk ikut serta membangun perusahaan. Bagaimana cara para CEO besar menghadapi persaingan, mengembalikan kebangkrutan, dan membenahi kinerja perusahaan? Berbeda dengan tantangan para manager perusahaan multinasional yang dihadapkan dengan tantangan memimpin bawahan dibelahan dunia lain. Mungkinkah seorang pemimpin dapat memimpin tanpa bertatap muka? Delegasi virtual dari film "After Earth" sedikit banyak menggambarkan Effective Delegation.
 
Edisi ke-3 newsletter Dayalima juga menyoroti tantangan Usaha Kecil Menengah pun dengan permasalahannya. Setelah beberapa waktu lalu Daya Dimensi Indonesia (DDI) bersama iCreate menyelenggarakan talkshow "Big Solution for Small Businessess" yang berlanjut dengan complimentary class di kantor DDI.  Sebagai salah satu pemerhati budaya, bulan Mei lalu Dayalima dan Djarum menyuguhkan cerita tentang perempuan Minangkabau, Sumatera Barat dengan keunikan Matrilialisme-nya di "Padusi". Bagi yang belum sempat menonton, beberapa ulasan tentang Padusi diliput  oleh majalah Herworld, Goodhousekeeping, Hello, Kompas, Jawa Pos, juga media elektronik: Metro TV dan RCTI.
 
 

Degradasi Kualitas Kepemimpinan Nasional dari Kacamata Adnan Buyung.

Topik mengenai Kepemimpinan Nasional tidak akan ada habisnya untuk diperbincangkan, didebat, dan didiskusikan. Topik yang bersinggungan dengan isu hangat permasalahan tanah air ini telah menjadi bagian dari percakapan kita sehari-hari. Fenomena inilah yang melatarbelakangi Daya Dimensi Indonesia (DDI) untuk mengadakan “Forum Percakapan”. Acara dengan tagline “Untuk Indonesia Lebih Baik” ini menghadirkan pakar-pakar senior di bidangnya, sesuai dengan tema yang sedang diangkat. Seperti pada 18 April 21 lalu, misalnya, DDI mengundang Prof. Dr. Adnan Buyung Nasution (Tokoh Hukum Tata Negara Indonesia) dan Bambang Harymurti (Presdir PT. Tempo Inti Media) sebagai moderator.
 
Alasan DDI mengundang dua figur tersebut tak lain karena keduanya ‘menguasai’ tema Forum Percakapan kali itu, yakni “Etika dan Integritas Kepemimpinan Nasional Dahulu, Sekarang, dan yang Akan Datang”. Menangkat tema tersebut, Forum Percakapan yang dihadiri komunitas DDI ini diajak memandang Kepemimpinan Nasional dari segi historis, kondisi kekinian, serta secara visioner.
 
Perbedaan yang begitu mencolok antara pemimpin masa kini dan pemimpin masa kemerdekaan diceritakan oleh Bang Buyung—sapaan akrab Adnan Buyung Nasution— dengan antusias. Dalam pandangannya, degradasi kualitas kepemimpinan pada masa kini dalam aspek tindakan, perilaku, dan tata krama, telah menjadi keprihatinan semua pihak.
 
“Keselarasan antara cara bicara dan tanggung jawab serta ucapan dan tindakan yang telah terdegradasi secara cukup signifikan ditunjukkan oleh para wakil rakyat dan para pemimpin kita,” ujar Buyung, dalam acara rutin yang digelar di kantor DDI, Kawasan Mega Kuningan, Jakarta.
 
Padahal, tambahnya, pemimpin yang ideal harus memiliki integritas, berkarakter, dan punya kemampuan manajerial yang baik, selain juga wajib punya jiwa yang visioner. Perbedaan mencolok antara pemimpin masa lalu dengan masa kini tentu tidak bisa dilepaskan dari buruknya kondisi partai politik sekarang.
 
“Fungsi dari partai sesungguhnya adalah sebagai alat pembelajaran politik bagi masyarakat, bukan sebagai koloni keluarga dan alat penggeruk harta,” kata Buyung.
 
Oleh karena itu, ia menekankan kalau perilaku jujur dan berkarakter harus mulai ditanamkan dari kecil. Kebiasaan buruk pada masa kecil, seperti mencontek, misalnya, harus dihilangkan. Karena itu adalah awal mula budaya praktis dan instan yang merusak sistem dan perjuangan para founding father Indonesia.
 
Menurut Bang Buyung, forum-forum seperti Forum Percakapan ini perlu mendapatkan apresiasi yang tinggi, karena punya potensi untuk memberikan kontribusi positif bagi pencerdasan publik. Apalagi, tambahnya, masa reformasi—yang telah memberikan kebebasan berekspresi—seringkali tidak dimanfaatkan dan diolah dengan baik.
 
 

Bagaimana Para CEO Memutarbalikkan Keadaan

Tantangan terbesar seorang CEO adalah kemampuan untuk memutarbalikkan keadaan dari ambang kebangkrutan ke puncak kesuksesan. Ini adalah 5 kisah inspiratif dari 5 CEO yang berhasil melakukannya.
 
Steve Jobs
(CEO Apple, 1996 – 2011)

 
Setelah meninggalkan Apple di tahun 1985 karena perseteruannya dengan dewan direksi, Steve Jobs kembali aktif di tahun 1996 dengan berperan sebagai  CEO sementara (interim) ketika  nilai saham Apple menurun drastic.
Steve Jobs mengeliminasi 350 proyek yang dikerjakan divisi pengembangan Apple menjadi 50 item yang kemudian di finalisasi hingga hanya 10 jenis. Strategi Steve Jobs adalah mengembangkan gadget-gadget yang menjadi pendobrak, yaitu iMac, Ipod, ITunea dan Iphone. Dia bahkan merevisi image pinggul logo Mac. Hasilnya saham Apple naik lebih dari 9,000 persen.
 
Isaac Perlmutter
(CEO Marvel, 2005 – sekarang)
 
Isaac Perlmutter adalah anggota dewan direksi Marvel Comics ketika perusahaan  tersebut bangkrut pada tahun 1996. Sebagai pemilik Toy Biz, Inc, ia membantu penggabungan perusahaan dengan Marvel untuk membawanya keluar dari kebangkrutan pada tahun 1998. Berfokus pada lisensi untuk media dan produk, Marvel meningkatkan arus kas dan mengangkat harga sahamnya.
Perlmutter dinobatkan menjadi CEO Marvel pada tahun 2005. Dia dikenal karena perilaku biaya-sadarnya, menjaga jumlah karyawan tetap rendah, dan bahkan menggali penjepit kertas di sampah demi penghematan. Pada tahun 2009, Marvel dibeli oleh Walt Disney sebesar $ 6 miliar. Saat ini Marvel ditaksir bernilai $ 4,2 miliar dimana Perlmutter masih memegang peran sebagai CEO hingga hari ini.  
 
Emir Satar
(CEO Garuda Indonesia,2005 – sekarang)
 
Tangan dinginnya berhasil mengangkat maskapai nasional dari jurang kebangkrutan. Berbagai inovasi dan terobosan dia lakukan untuk membenahi kinerja perusahaan pelat merah ini.
Kesuksesan Emir membenahi Garuda sebenarnya sudah dilakukan ketika dia menjabat sebagai Direktur Keuangan Garuda Indonesia (1998–2003). Emir adalah “tokoh sentral” dalam restrukturisasi utang sebesar USD1,8 miliar sehingga Garuda selamat dari ancaman kebangkrutan pada 2001.
Hasilnya Garuda pernah dinobatkan sebagai maskapai yang paling berbenah di dunia (World’s Most Improved Airlines) versi Skytrax. Bahkan Garuda juga menerima Skytrax 4- star rating(maskapai bintang empat). Berdasar penilaian Skytrax pada awal 2009,Garuda berhasil meraih predikat sebagai maskapai penerbangan bintang empat.
 
TP Rachmat
(CEO PT Astra Honda Motor,1972-2002)
 
TP Rachmat memulai kiprahnya sebagai sebagai direktur PT Astra Honda Motor (dahulu PT Federal Motor – perakit sepeda motor Honda) di tahun 1972. Di bawah pimpinannya Astra menjadi group perusahaan yang besar dengan memiliki banyak anak perusahaan di berbagai sector industry seperti konstruksi, perkebunan, manufacturing, confectionary dan banyak lagi. Kepiawaiannya mengelola bisnis inilah yang membuat ia berhasil dinobatkan majalah Forbes menjadi peringkat 17 orang terkaya di Indonesia dengan jumlah kekayaan $1600M.
 
 

Suatu hari tiba-tiba saja Anda mendapat promosi dan dipercaya untuk memimpin satu tim besar yang tersebar di wilayah Asia Tenggara. Kira-kira strategi delegasi seperti apa yang akan Anda terapkan? mengingat saat ini Anda harus memimpin tim tanpa bertatap muka tapi  secara virtual.

Menurut riset yang dilakukan Forbes.com baru-baru ini,  80% manager harus memimpin tim yang tidak berada dalam satu lokasi dan 57% dari mereka mengatakan bahwa tantangan terbesar ada pada kepercayaan. 
Bagi Anda yang sudah menyaksikan film After Earth yang dibintangi oleh Will Smith dan Jaden Smith, mungkin akan langsung bisa membayangkan tantangan yang dihadapi Jenderal Cypher (diperankan Will Smith) ketika memberikan kepercayaan kepada Kitai ( diperankan Jaden Smith) sang anak yang hanya seorang calon kadet dengan pengalaman terbatas, melakukan tugas maha sulit yang merupakan satu-satunya jalan untuk menyelamatkan nyawa mereka berdua.
 
Apa persamaan antara promosi yang (mungkin) Anda dapat diatas dengan situasi film After Earth? Persamaannya adalah baik Anda maupun Jenderal Cypher harus memimpin anggota tim secara virtual. Bila hal ini yang Anda hadapi, bagaimana Anda bisa membangun kepercayaan kepada anggota tim Anda dan bagaimana memastikan mereka berhasil dalam tugasnya?
 
Tentunya ada dua hal terpenting yang bisa menjadi dasar bagi seorang pemimpin seperti Anda untuk melakukan penilaian awal mengenai kemampuan anggota tim Anda, yaitu ; job skill dan job fit.  Pada awal film After Earth, M. Night Shyamalan sang sutradara mengajak penonton melihat latar belakang Kitai yang sangat berambisi untuk lulus ujian menjadi seorang kadet. Nilai assesment Kitai menunjukkan bahwa dia memiliki skill diatas rata-rata dan cocok (job fit) untuk menjadi kadet karena memiliki motivasi tinggi. Satu-satunya yang menggagalkannya diangkat menjadi kadet karena adanya trauma psikologis yang terkadang mengaburkan penilaiannya.
 
My Way or The Highway
Sosok Jenderal Cypher sendiri digambarkan sebagai pemimpin yang cenderung otoriter dan kaku, sehingga pada awal penugasan bisa dilihat bagaimana sang Jenderal cenderung menerapkan metoda My Way or The Highway .  Sedangkan Kitai cenderung merespon situasi dengan logika dan melakukan improvisasi, dengan pendekatan result oriented dan bukan process oriented.
 
Seperti yang terjadi pada film After Earth pada kenyataannya anak buah kita sering berhadapan dengan situasi yang sama sekali tidak terduga dan secara logika mereka melihat bahwa arahan dari pemimpinnya sama sekali tidak relevan atau tidak bisa dijadikan pedoman dalam menciptakan sebuah solusi. Oleh karena itu Metoda My Way or the Highway menjadi tidak efektif terutama karena hanya memperhatikan practical needs dan tanpa menyeimbangkannya dengan personal needs anggota tim kita.
 
 
Pada bagian akhir film, kita bisa melihat bahwa Jenderal Cypher adalah seorang pemimpin yang beruntung karena Kitai telah berhasil mendemonstrasikan prinsip Quality/Action skills yang merupakan kunci dari delegasi yang efektif.  Secara cerdas Kitai tetap mendengarkan dan menyerap instruksi yang diberikan sang Ayah dengan tetap melakukan penyempurnaan-penyempurnaan metoda, memilih solusi yang tepat untuk hasil yang maksimal.
 
Seperti yang disarankan oleh artikel berjudul Five Things Every Virtual Manager Should Do di Forbes.com, salah satu elemen terpenting dalam delegasi virtual adalah bagaimana seorang pemimpin dapat memadukan antara kejelasan tugas dan kemandirian anggota tim kita.  Perjelas ekspektasi Anda terutama menyangkut tenggat waktu, isyu yang harus dipecahkan oleh tim, ketersediaan waktu dan bahkan komunikasi. Setelah itu yang harus Anda lakukan adalah memberikan ruang yang cukup bagi tim Anda untuk melaksanakan tugasnya.
 
 

Kiat-Kiat Jitu untuk Dongkrak Bisnis UKM

 
Talkshow bertajuk “Big Solution for Small Businesses” di EMAX Café, Kemang, Jakarta, menarik perhatian banyak pelaku Small Medium Business (SMB) atau Usaha Kecil Menengah (UKM), baik yang baru berkecimpung maupun yang sudah menjalankan bisnis mereka selama bertahun-tahun. Terlebih lagi, latar belakang dari diselenggarakannya talkshow ini memang untuk berbagi kiat-kiat memajukan bisnis UKM.
 
Acara yang diadakan oleh majalah iCreate Indonesia dan Integra Global Solusi (IGS)—distributor tunggal produk NAS (Network Attached Server) Synology di Indonesia—pada 27 Maret 2013 ini menghadirkan tiga narasumber yang telah meraih sukses melalui kerja keras, sembari mengalahkan rintangan yang kerap dihadapi oleh para pelaku UKM: Betley Heru Susanto (CEO dari PT Skyworx Indonesia, IT Provider Solution), Bimo Dewanto (pionir gerakan #homework), dan Arie Panca (Business Execution Group Head dari Daya Dimensi Indonesia). Talkshow tersebut berujung pada complimentary class di Kantor DDI yang memberikan pemahaman baru kepada para pelaku UKM untuk mendukung bisnis mereka.
 
 

Legenda Drama PADUSI

 
Suku Minangkabau yang berada di kawasan Sumatera Barat memang dikenal sebagai salah satu penganut paham matrilineal di Indonesia. Memang tak terlalu banyak suku yang sangat taat pada sistem kekeluargaan perempuan. Bahkan di dunia pun, hanya ada suku Apache Barat da suku Navajo di Amerika Serikat, serta suku Zhuang di China. Keunikan dan budaya yang kuat itu, tentu saja menjadi satu keistimewaan sendiri bagi orang-orang yang berasal dari suku Minang. Hal itulah yang kira-kira melatarbelakangi sebuah pementa- san Legenda Drama Tari Padusi  yang berlangsung pada tanggal 11-12 Mei 201 lalu di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Jakarta.
 
Pementasan yang diselenggarakan atas kerja sama Daya Dimensi Indonesia (DDI) dan Yayasan Bunda ini melibatkan 50 penari dan musisi, dan dikonstruksi oleh nama-nama besar di bidang seni, seperti Tom Ibnur (koreografer), Nia Dinata (penulis naskah), dan Rama Soeprapto (sutradara). Mengangkat tema tentang percintaan, kesetiaan, dan juga harga diri, pementasan ini menceritakan tiga legenda perempuan di Minang yang menginspirasi.
 
Keikutsertaan Nia Dinata yang memang banyak mengangkat cerita tentang perempuan melalui karya-karyanya didasari “keterikatan” tersendiri dengan Padusi. Selain karena memang berdarah Minang, ia juga merasa memiliki gairah khusus untuk mengeksplorasi drama tari yang jarang ia sentuh. Sedangkan Rama Soeprapto sebagai sutradara menyuguhkan sentuhan artistik yang minimalis dengan teknik visual prima dalam penggabungan seni drama dan tari, sehingga menjadi satu presentasi yang unik.